KOORDINATBERITA.COM | Surabaya — Dunia perkotaan memang identik dengan segala sesuatu yang lebih menjanjikan. Mulai dari penghasilan fasilitas, hingga peluang pekerjaan, semua seolah berpusat di kota besar. Tak heran jika banyak orang datang ke Surabaya dengan satu harapan, yaitu memperbaiki taraf hidup.
Di antara hiruk-pikuk jalanan dan deru kendaraan, ada sosok Agus Haryanto, pengemudi ojek online yang merupakan seorang kepala keluarga dan ayah bagi anak-anaknya. Delapan tahun terakhir ia telah menggantungkan hidupnya pada setiap dering pada notifikasi aplikasi hijau.
Agus memulai pekerjaannya sebagai mitra ojek online sejak tahun 2016. Sebelumnya, ia bekerja sebagai cleaning service di sebuah hotel. Namun, penghasilannya kala itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang terus bertambah. Penghasilan yang kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya membuat ia beralih menjadi driver ojek online. Harapannya hanya satu: membahagiakan istri dan ketiga anaknya di rumah.
Rutinitasnya dimulai setiap pukul enam pagi. Dengan jaket hijau kebanggaan yang melekat di tubuhnya dan helm yang sudah mulai kusam, Agus berangkat menyusuri jalanan Surabaya. Ia biasanya bekerja hingga siang hari, kemudian pulang ke rumah untuk makan siang dan berkumpul sejenak dengan keluarga. Setelah itu, sekitar pukul dua atau tiga sore, Agus kembali ke jalan untuk melanjutkan mencari penumpang hingga menjelang malam.
Dalam sehari, Agus bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp125.000 hingga Rp150.000. Uang itu ia gunakan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan pendidikan tiga anaknya. Anak pertama yang kini duduk di bangku SMK, anak kedua di kelas empat SD, dan si bungsu yang masih di taman kanak-kanak. “Kalo dibilang cukup ya nggak mbak, tapi pokoknya bisa buat nyekolahkan anak dan menuhin kebutuhannya mereka.”
Namun, seperti yang kita ketahui bahwasannya setiap pekerjaan memiliki suka dan dukanya masing-masing, tidak setiap hari dapat berjalan dengan mulus. Dalam perjalanan mengantarkan saya ke kampus pagi itu, Agus bercerita tentang suka duka yang dialaminya selama bertahun-tahun bekerja sebagai driver ojek online di perkotaan.
“saya itu seneng mbak, kalau dapat penumpang yang ngasih tip lebih. Meski cuman Rp.1000 atau Rp.2000 saya udah bersyukur banget itu,” katanya sambil tersenyum tipis.
Di sisi lain, ia juga mengaku kerap kali menghadapi pelanggan yang kurang pengertian.“Kadang ada yang marah-marah ke saya mbak, padahal salahnya itu di map yang menyesatkan saya waktu di perjalanan, bukan saya sengaja lama jemput atau gimana. Tapi ya mau gimana lagi mbak, namanya juga cari nafkah, jadi harus sabar.”
Di balik kerasnya kehidupan kota, Agus tetap menyimpan rasa syukur. Baginya, setiap notifikasi order yang masuk adalah tanda rezeki yang tak boleh disia-siakan. Jaket hijau yang ia kenakan bukan sekadar seragam, melainkan simbol perjuangan seorang ayah yang berlari melawan waktu, panas, dan hujan demi memastikan keluarganya tetap bisa makan dan belajar dengan tenang.
Perbincangan kala itu di tutup dengan Agus yang tersenyum tulus seraya mendoakan kesuksesan bagi saya sebelum kembali menyalakan motornya, bersiap menerima notifikasi berikutnya—harapan kecil yang selalu ia tunggu di setiap deringnya.@_Mahrin
KOORDINATBERITA.COM| Opini - Dibalik setiap berita yang bisa kita akses dengan mudah lewat sekali klik di media sosial atau portal berita hari ini, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana pers Indonesia lahir, tumbuh, dan bertahan menghadapi zaman. Dulu, berita baru bisa menyebar berhari-hari setelah suatu peristiwa terjadi. Kini, dalam hitungan detik, jutaan orang di seluruh Indonesia sudah tahu kabar terkini hanya lewat notifikasi di ponsel. Namun, di balik kemudahan itu, sedikit dari kita yang menyadari betapa panjang dan pelik perjalanan sejarah yang telah dilalui dunia pers di tanah air.
Sebelum menelusuri jejak sejarahnya, mari kita pahami dulu apa itu pers. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, disebutkan bahwa pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik—mulai dari mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, hingga menyampaikan informasi dalam berbagai bentuk dan media. Dengan kata lain, pers bukan sekadar alat penyampai berita, tapi juga jembatan penting antara informasi dan masyarakat. Tapi posisi strategis itu tidak datang begitu saja; ia dibangun melalui proses panjang yang penuh perjuangan dan dinamika politik.
Sejarah Awal Pers Indonesia: Dari Pena Perlawanan hingga Lahirnya Identitas Nasional
Dalam catatan Sejarah yang dirangkum oleh Wikipedia dalam artikel berjudul “media massa” disebutkan bahwasannya bentuk awal media di Indonesia muncul sejak masa kolonial Belanda. Salah satu koran pertama yang muncul di jaman itu adalah Bataviasche Nouvelles yang terbit pada abad ke-18 di Batavia. Namun, media itu hanya melayani kepentingan pemerintah kolonial, bukan suara rakyat pribumi.
Titik balik muncul pada awal abad ke-20, ketika Raden Mas Tirto Adhi Soerjo mendirikan Medan Prijaji pada tahun 1907. Surat kabar ini bukan sekadar media informasi, melainkan wadah perjuangan bagi rakyat Indonesia untuk menyuarakan ketidakadilan. Dari sinilah lahir cikal bakal pers nasional. Sehingga kini tanggal berdirinya medan prijaji – 9 Februari— diperingati sebagai Hari Pers Nasional dan Raden Mas Tirto Adhi Soerjo kemudian dikenal sebagai Bapak Pers Nasional.
Mengutip dari artikel Detik.com yang berjudul “Mengenal Sejarah dan Fakta Menarik Pers di Indonesia” terdapat beberapa fakta menarik di balik Sejarah pers Indonesia yang panjang ini. salah satu dari beberapa fakta yang tersaji, disebutkan bahwa sebelum Medan Prijaji, sudah ada surat kabar berbahasa Melayu di Surabaya bernama Soerat Kabar Bahasa Melajoe yang terbit pada tahun 1856. Artinya, semangat literasi dan komunikasi publik di Indonesia sudah mulai tumbuh bahkan sebelum semangat nasionalisme terbentuk secara utuh.
Sejak saat itu, pers menjadi bagian penting dari perjuangan bangsa. Ia berkembang dari media perjuangan di masa kolonial, menjadi penggerak opini publik di masa kemerdekaan, hingga akhirnya berubah menjadi instrumen demokrasi setelah masa reformasi.
Pada masa setelah kemerdekaan, pers sempat menjadi alat perjuangan dalam membangun bangsa. Namun, perjalanan itu tak lepas dari intervensi kekuasaan. Seperti dijelaskan dalam artikel Detik.com“Mengenal Sejarah dan Fakta Menarik Pers di Indonesia”, masa Orde Lama di bawah Presiden Soekarno diwarnai oleh banyaknya media yang terafiliasi dengan partai politik. Surat kabar seperti Harian Rakjat dan Suluh Indonesia menjadi corong ideologi, membuat pemberitaan kehilangan sisi independennya.
Lalu datang masa Orde Baru, di mana kontrol terhadap media semakin ketat. Pemerintah memberlakukan sistem izin terbit (SIUPP) yang bisa dicabut kapan saja. Media seperti Tempo, Editor, dan Detik versi cetak sempat dibredel karena memberitakan hal-hal yang dianggap mengkritik pemerintah. Situasi ini memaksa jurnalis bekerja di bawah tekanan — tapi justru dari keterbatasan itulah lahir semangat baru: menulis dengan keberanian.
Dengan begitu, berakhirnya masa orde baru pada tahun 1998 menjadi tonggak kebangkitan. Reformasi yang membuka ruang baru bagi kebebasan pers di Indonesia. Melalui UU Pers Nomor 40 Tahun 1999, media kini bebas dari campur tangan pemerintah. Tak ada lagi izin terbit, dan jurnalis mendapatkan perlindungan hukum dalam menjalankan profesinya.
Era ini menandai ledakan media baru. Koran, televisi, radio, dan kemudian portal berita online tumbuh bak jamur di musim hujan. Masyarakat kini bisa mendapatkan berbagai perspektif hanya dengan membuka satu laman berita. Namun, kebebasan baru itu juga membawa tantangan baru — terutama soal kecepatan informasi dan kebenaran data.
Transformasi Pers dalam Lensa Digital: Dari Koran Hingga Layar Sentuh
Kini, dunia pers hidup dalam lanskap yang benar-benar berbeda. Jika dahulu kala, berita dicetak di atas kertas dan menunggu pembaca di pagi hari, sekarang semua berpindah ke layar digital. Seperti dijelaskan dalam Wikipedia, media massa modern kini mencakup televisi, radio, internet, dan media sosial yang memungkinkan informasi menjangkau publik dalam waktu singkat.
Fenomena tersebut menjadi pengingat bagi para jurnalis di masa kini, bahwasannya jurnalisme hari ini bukan hanya berpacu dengan waktu, tapi juga dengan algoritma media sosial dan kebiasaan konsumsi informasi masyarakat. Dengan adanya tantangan tersebut, kini redaksi harus bisa lebih cerdas ketika membaca data, memanfaatkan teknologi, dan menjaga kecepatan tanpa kehilangan akurasi.
Namun, kemajuan digital juga membawa tantangan besar seperti, banjir informasi, hoaks, dan disinformasi. Di tengah derasnya arus berita, tugas utama jurnalis masa kini menjadi lebih kompleks, yang mana mereka tidak hanya bertugas untuk melaporkan peristiwa, tapi juga menafsirkan makna dan memastikan kebenarannya.
Era digital ini menjadikan siapa pun bisa menjadi “penyampai berita”, tapi tidak dapat disangkal bahwa tidak semua orang yang menyampaikan berita paham akan etika jurnalistik. Dengan begitu, penting bagi para jurnalis dapat menjadi pers professional yang bisa menjaga integritas, menegakkan akurasi, dan menjadi penuntun publik untuk memvalidasi berita yang tengah beredar di tengah keramaian informasi yang membingungkan.
Pada kesimpulannya perjalanan panjang pers Indonesia, dari Medan Prijaji hingga platform berita online hari ini, menunjukkan satu hal yang pasti, yakni media akan terus berubah mengikuti zaman, akan tetapi nilai kejujuran dan tanggung jawab harus tetap dipertahankan. Lewat lensa digital, pers Indonesia bukan hanya menyampaikan berita, tapi juga terus menulis sejarah bangsa — satu klik, satu cerita, satu kebenaran pada waktunya.
Penulis : Mahrin Amrinarosyada Nazaninlatif
Sumber: Wikipedia – “Media Massa”; Detik.com – “Mengenal Sejarah dan Fakta Menarik Pers di Indonesia
KOORDINATBERITA.COM | Kangean - Masyarakat Nelayan Kepulauan Kangean mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menolak rencana tambang migas di multizona Pulau Kangean barat, Jumat, 31/10/2025
Menurut Koordonator gerakan penolakan tambang Migas Kengean yakni Ahmad Yani menjelaskan kepada Koordinatberita.com melalui rilis whatsapp. Demonstrasi laut ini yang ke 3 setelah 16 September dan 7 Oktober nelayan melakukan aksi laut dan Aksi ke 5 menolak aktivitas seismik di perairan dangkal Kepulauan Kangean merupakan bentuk protes terhadap dampak sosial yang telah menimbulkan keresahan dan kekacauan yang baru-baru ini terus terjadi dan mengganggu ruang hidup masyarakat nelayan di Kepulauan Kangean.
Masyarakat Kepualuan Kangean juga tahu bahwa Tambang MIGAS dapat merusak ekologis dari kegiatan tambang migas ini. Adapun untuk tuntutan Nelayan antara lain :
1. Menghentikan rencana tambang migas di di Laut dan didarat Kepulauan Kangean
2. Melindungi lingkungan dan hak-hak masyarakat setempat yang telah diratifikasi dalam perubahan undang-undang nomer 32 tahun 2019.
3. Menuntut pihak Syahbandar Kangean untuk tidak memberikan izin pada kapal-kapal yang terindikasi kapal survei seismik 3D berlabuh di perairan Kangean
4. Menuntut pihak Perusahaan agar bertanggung jawab terhadap perubahan kondisi sosial masyarakat Kangean agar dikembalikan dalam keadaan semula
5. Menuntut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Sumenep Achmad Fauzi agar mengintruksikan segera hentikkan dan angkat kaki kapal-kapal survei seismik 3D yang beroperasi di perairan Kangean
6. Mendorong Menteri Kelautan dan Perikanan untuk bertindak, mengawasi, dan mengaudit PT KEI yang berniat memproduksi Pertambangan Minyak dan Gas di pulau Kangean yang tergolong dalam Pulau Kecil
7. menuntut ESDM Jawa Timur untuk segera memanggil SKK MIGAS Jabanusa dan memerintahkan segala aktivitas yang sekarang berlangsung di perairan kangean Dangkal untuk segera di hentikan.@_Oirul