top of page
Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square

KOORDINATBERITA.COM | Surabaya - BPBD Jatim memperkuat kapasitas penanggulangan bencana melalui forum internasional di Jepang. Dalam The 10th International Conference on Integrated Crisis Management yang digelar di Chiba Institute of Science, Jepang pada Sabtu (13/06/2026), BPBD Jatim mempelajari berbagai praktik terbaik dalam manajemen krisis terpadu.


Hadir dari BPBD Jatim, yakni Kabid KL BPBD Jatim, Satriyo Nurseno; Kasubbag Umum dan Kepegawaian BPBD Jatim, Galih Perwira Kusuma; Ketua Tim Pusdalops, Muhammad Amrul dan Analis SDM Aparatur Ahli Pertama, Dino Andalananto; beserta Kepala UPT PPK BPKAD Prov. Jatim, Marta Mukti Widodo.


Konferensi tersebut menjadi ajang pertukaran pengetahuan dan pengalaman terkait manajemen risiko, penanggulangan bencana, serta penguatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman krisis global. Dalam forum ini juga, Chiba Institute of Science, Jepang menyerahkan bantuan berupa kamera dan panel surya (solar panel) untuk mendukung operasional dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.


Pada sesi kuliah utama, Visiting Professor Chiba Institute of Science, Hirotaka Yamashita mengangkat tema “Japan's Security as Seen from the Iran and Ukraine Wars”. Ia menjelaskan bahwa dinamika geopolitik global telah mengubah paradigma keamanan nasional. “Keamanan nasional pada era modern membutuhkan kombinasi teknologi baru, kapasitas industri pertahanan, ketahanan nasional, dan kemandirian strategis,” ujar Hirotaka Yamashita.

Dalam sesi pemaparan berikutnya, Dewan Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Mu’man Nuryana bersama Associate Professor Faculty of Risk and Crisis Management Chiba Institute of Science, Hitoshi Igarashi, menyoroti pentingnya penerapan Incident Command System (ICS) dalam penanganan bencana berskala besar.


“Penanganan bencana berskala besar memerlukan koordinasi yang terstandarisasi melalui Incident Command System agar berbagai organisasi, relawan, dan lembaga dapat bekerja sebagai satu tim,” kata Mu’man Nuryana.


Tanpa standar koordinasi yang sama, respons awal bencana berpotensi mengalami kebingungan, tumpang tindih tugas, hingga keterlambatan penyelamatan korban.Sementara itu, Hitoshi Igarashi menjelaskan bahwa penerapan ICS di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri.


“Indonesia mengadaptasi sistem ICS dengan budaya gotong royong dan kondisi kelembagaan lokal melalui peran TAGANA serta komunitas seperti Kampung Siaga Bencana,” jelasnya.


Keduanya menilai kolaborasi Jepang dan Indonesia menunjukkan bahwa keberhasilan manajemen bencana tidak hanya ditentukan oleh struktur komando yang jelas, tetapi juga oleh kesejahteraan personel penanggulangan bencana dan keterlibatan aktif masyarakat.


Dalam sesi diskusi panel, Profesor University of Human Arts and Sciences, Hiromitu Sato, memaparkan pengalaman Jepang dalam menghadapi berbagai jenis krisis. Yakni dimulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kecelakaan teknologi seperti kebocoran nuklir Fukushima, hingga pandemi COVID-19.


“Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa penanganan bencana harus dilakukan secara komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan, tidak hanya fokus pada penyelamatan korban dan pemulihan infrastruktur,” ujar Hiromitu Sato.


Kabid KL BPBD Jatim, Satriyo Nurseno menilai partisipasi BPBD dalam forum internasional ini menjadi kesempatan strategis untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan memperluas jejaring kerja sama internasional di bidang kebencanaan.


“Kami memperoleh banyak pembelajaran mengenai penguatan sistem komando, koordinasi lintas sektor, pengelolaan risiko, serta pentingnya membangun budaya kesiapsiagaan masyarakat. Pengalaman Jepang dalam menghadapi berbagai bencana menjadi referensi berharga untuk meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana di Jawa Timur,” ungkapnya.


Menurut Satriyo, tantangan kebencanaan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim, urbanisasi, dan perkembangan teknologi menuntut adanya sistem manajemen risiko yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis pengetahuan. Sehingga penguatan ketangguhan daerah tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah, tetapi membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, dunia usaha, komunitas, relawan, hingga masyarakat.


“Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan terwujud sistem penanggulangan bencana yang lebih efektif, cepat, dan berkelanjutan. Serta mampu memperkuat inovasi dan praktik terbaik penanggulangan bencana di daerah, sekaligus mendukung terwujudnya masyarakat yang tangguh menghadapi berbagai risiko dan krisis di masa depan,” harapnya.


Ke depan, Chiba Institute of Science, Jepang dan BPBD Jatim terus berkolaborasi dalam berbagai program penanggulangan bencana, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia hingga penguatan sarana pendukung kebencanaan. Selain itu, kerja sama juga mencakup bidang pendidikan melalui program beasiswa dari Chiba Institute of Science, Jepang.


Program ini diharapkan dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kompetensi dan wawasan internasional. Melalui sinergi yang berkelanjutan tersebut, diharapkan upaya mitigasi bencana semakin optimal serta mampu mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing global.


Selain Hiromitu Sato, diskusi panel juga menghadirkan Kunihiro Mimura dari Tokyo Healthcare University, Tamotsu Shinozuka dari Chiba Institute of Science, Hidehiro Kimura, serta Hiroya Toda yang turut membahas penguatan sistem manajemen krisis terpadu di berbagai sektor.@_Adm

 
 
 

KOORDINATBERITA.COM | Surabaya - Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Jawa Timur resmi merampungkan pembangunan infrastruktur pelimpah (spillway) Sungai Tanggul di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember. Infrastruktur strategis ini kini telah selesai dalam pelaksanaan pekerjaannya dalam mendukung upaya keberlanjutan ketahanan pangan di wilayah Jawa Timur khususnya Kabupaten Jember sendiri.


Pekerjaan ini berhasil diserahterimakan pada tanggal 2 Juni 2026, lebih cepat dari batas akhir perpanjangan waktu yang ditetapkan pada 14 Juni 2026. Keberhasilan ini membuktikan komitmen Dinas PU SDA Jatim dalam memberikan layanan infrastruktur Sumber Daya Air  bagi masyarakat petani dan nelayan.


Pembangunan ini merupakan tindak lanjut atas perbaikan pasca kerusakan pelimpah yang sebelumnya sempat terkendala adanya debit banjir yang tinggi dari intensitas hujan yang lebat dari hulu maupun hujan setempat. Kesanggupan pihak pihak penyedia dalam melakukan perbaikan secara intensif melalui dua fase perpanjangan waktu, yakni pemberian kesempatan pertama selama 50 hari kalender (1 Januari–19 Februari 2026) dan kesempatan kedua selama 115 hari kalender (20 Februari–14 Juni 2026).


Adapun pemberian kesempatan penyelesaian pekerjaan ini telah dilaksanakan sesuai dengan Peraturan LKPP No. 12 Tahun 2021.

Langkah strategis tersebut terbukti efektif dalam memastikan seluruh struktur pelimpah rampung sesuai spesifikasi teknis tanpa mengurangi standar kualitas bangunan.


Pada tahun 2026 ini masih ada pekerjaan lanjutan dari tahun 2025 sebagai pengamanan bangunan pelimpah tersebut yaitu dengan memperpanjang perkuatan sayap hulu kanan dan restorasi lanjutan hilir pelimpah yang masih dalam tahapan perencanaan, Diharapkan nantinya juga hambatan teknis akan teratasi dan fasilitas siap beroperasi penuh untuk memenuhi kebutuhan sektor pertanian akan optimal. Adanya bangunan pelimpah pengendali banjir ini membawa dampak positif bagi sektor pertanian karena mampu mengairi sekitar 1.046 hektar lahan sawah produktif.


Para petani kini dapat mengoptimalkan aliran Sungai Tanggul alur lama yang sebelumnya belum termanfaatkan secara maksimal untuk mendukung siklus tanamnya, dan dimana saat ini masih dilaksanakan normalisasi dalam pemenuhan kebutuhan debitnya. Selain meminimalisir ancaman banjir, infrastruktur Sumber Daya Air ini diproyeksikan mampu menjaga kestabilan debit air untuk lahan sawah di wilayah tersebut. Sektor pertanian Jember diharapkan semakin berdaya saing berkat jaminan ketersediaan air yang lebih terjaga sepanjang musim.


Dinas PU SDA Jatim menegaskan bahwa seluruh rangkaian pekerjaan ini merupakan prioritas guna menjamin keberlanjutan fungsi infrastruktur Sumber Daya Air demi mendukung ketahanan pangan nasional. Sinergi antara kebijakan teknis yang presisi dan kebutuhan riil di lapangan ini menjadi kunci utama dalam upaya memajukan kesejahteraan masyarakat petani.


Implementasi berkelanjutan ini sekaligus menjadi bukti nyata kesiapan Dinas PU SDA Jatim dalam menjaga kedaulatan pangan demi kemandirian ekonomi sektor pertanian masa depan.@_Adm

 
 
 
Tonny membeberkan bahwa raibnya uang Rp 1,2 miliar tersebut bermula dari kebiasaannya yang kerap menitipkan ponsel saat menikmati layanan spa. Di dalam casing bagian belakang ponsel itu ia rupanya menyimpan KTP, dua kartu kredit, serta dua kartu ATM dari Bank Permata dan BCA.
Tonny membeberkan bahwa raibnya uang Rp 1,2 miliar tersebut bermula dari kebiasaannya yang kerap menitipkan ponsel saat menikmati layanan spa. Di dalam casing bagian belakang ponsel itu ia rupanya menyimpan KTP, dua kartu kredit, serta dua kartu ATM dari Bank Permata dan BCA.

KOORDINATBERITA.COM | Surabaya - Kasus pembobolan rekening senilai Rp 1,2 miliar yang menjerat seorang terapis spa bernama Nur Hasannah Prasetya memasuki babak baru di persidangan. Korban pembobolan yang merupakan seorang pria lansia, Tonny Soegiono, dihadirkan langsung di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya sebagai saksi kunci yang memberatkan terdakwa.



Dalam persidangan yang digelar di Ruang Sari 2 tersebut, terungkap sejumlah fakta mengejutkan mengenai kasus ini. Simak selengkapnya.

Fakta-fakta Terbaru Terapis Spa Surabaya Kuras Rp 1,2 M Uang Pelanggan


1. Sembunyikan Wajah dan Saling Tatap Sinis di Ruang Sidang


Saat memasuki ruang sidang, Tonny yang mengenakan topi, masker medis, dan kemeja batik tampak terus menutupi wajahnya menggunakan ponsel demi menghindari jepretan kamera.


Pria berusia kepala enam tersebut tampak enggan menatap balik Nur Hasannah yang terus memandangnya dengan tatapan tajam dari kursi terdakwa, meski sesekali Tonny kedapatan mencuri pandang.


Di hadapan jaksa, Tonny membenarkan bahwa awal mula perkenalan mereka terjadi di tempat spa kawasan Surabaya Barat. "Saya kenal di HR Muhammad, iya (di Superior Spa)," kata Tonny.


2. Modus Intip PIN di Minimarket dan Sembunyikan ATM di Casing HP


Tonny membeberkan bahwa raibnya uang Rp 1,2 miliar tersebut bermula dari kebiasaannya yang kerap menitipkan ponsel saat menikmati layanan spa. Di dalam casing bagian belakang ponsel itu ia rupanya menyimpan KTP, dua kartu kredit, serta dua kartu ATM dari Bank Permata dan BCA.


Karena tidak memiliki aplikasi m-Banking, pelaku diduga kuat menguras uang korban secara manual melalui mesin ATM. Tonny menduga terdakwa berhasil mengetahui nomor PIN miliknya saat ia mengambil uang di sebuah minimarket.


"Pernah, saya nekan pin dan ada dia (Nur ada di belakangnya). Saya gak perhatikan itu (Nur), saya ambil (uang di ATM). Dia tahu, dia di belakang kok, saya nggak lihat," imbuhnya.


3. Kronologi Pencurian Disampaikan Tonny


Aksi pencurian terstruktur yang berlangsung dalam rentang waktu Agustus hingga September 2022 ini baru disadari Tonny secara tidak sengaja ketika ia terpaksa menggunakan ATM BCA miliknya karena kartu ATM yang satunya tertinggal. Saat itulah ia terkejut melihat isi saldonya telah menyusut drastis.


"Itu (ATM) di belakang HP, di casing belakangnya itu, ada 2 kartu kredit, KTP, dan 2 ATM beda (bank). Bank Permata dan BCA. Saat itu kan ATM saya satunya ketinggalan, pas saya pakai yang ini (ATM di HP) saya pakai lalu terkejut (melihat isi saldo)," ungkap Tonny.


Ia lantas meminta sopirnya yang bernama Sholikin untuk mengantarkannya ke bank guna mencetak rekening koran, hingga akhirnya mendapati nama Nur serta seorang temannya yang kini berstatus DPO telah melakukan penarikan massal.


4. Bantah Pelanggan Tetap dan Sering Beri Tips Rp 500 Ribu


Di hadapan majelis hakim, Tonny sempat dicecar mengenai statusnya yang disebut-sebut sebagai pelanggan tetap Nur. Namun, ia buru-buru membantahnya dan mengaku hanya mengunjungi tempat spa sebanyak 3 hingga 4 kali dalam sebulan dengan durasi layanan sekitar 1,5 hingga 2,5 jam.


Ia juga menyatakan tidak selalu dilayani oleh Nur, melainkan bergantian dengan terapis lain bernama Putriana yang kini buron.


"Tiga sampai empat kali (dalam sebulan). Ganti (tidak hanya dengan Nur), ada orang lain (termasuk Putriana DPO). Itu (sering dengan Nur) iya, memang," akunya.


Kendati demikian, Tonny mengaku royal dan kerap memberikan tips bernilai fantastis kepada terdakwa setelah selesai dipijat.


"Ada (pernah memberikan tips Nur uang), ya tips biasa untuk setelah pijat dan refleksi, biasanya Rp 500 ribu," tandasnya.


Mendengar pengakuan tersebut, hakim anggota Safrudin hanya tersenyum dan menggelengkan kepala karena menilai kesaksian korban di persidangan cenderung inkonsisten.@_Network

 
 
 
Blog: Blog
bottom of page