top of page
Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square

Memang benar bahwa wacana ini sedang menjadi bahan pembicaraan. Pemerintah juga sudah membicarakan dengan Saudi Arabia. Ini adalah peluang bisnis, dan kami siap untuk dilibatkan,” kata Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto
Memang benar bahwa wacana ini sedang menjadi bahan pembicaraan. Pemerintah juga sudah membicarakan dengan Saudi Arabia. Ini adalah peluang bisnis, dan kami siap untuk dilibatkan,” kata Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto

KOORDINATBERITA.COM | Surabaya -Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Pemilik Pelayaran Nasional Indonesia (Indonesian National Shipowners' Association/INSA) memandang wacana penggunaan jalur laut untuk pemberangkatan jemaah haji dan umrah memiliki potensi ekonomi. Namun haji jalur laut juga menyimpan tantangan besar yang perlu dimitigasi. 


“Memang benar bahwa wacana ini sedang menjadi bahan pembicaraan. Pemerintah juga sudah membicarakan dengan Saudi Arabia. Ini adalah peluang bisnis, dan kami siap untuk dilibatkan,” kata Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu, 12 Juli 2025.


Salah satu tantangannya adalah waktu. Lamanya perjalanan laut yang mencapai sekitar 5.000 nautical mile (NM) dengan kecepatan kapal 15 knot bisa memakan waktu hingga 14 hari sekali jalan. Perjalanan pulang juga akan memerlukan waktu serupa, kata Carmelita. 


Menteri Agama Nasaruddin Umar sebelumnya mengatakan, umrah jalur laut sempat digunakan, meski tidak langsung dari Indonesia. “Dia, misalnya, terbang dari mana dulu, ya, dekat-dekat situ baru naik kapal pesiar ke umrah. Ada satu dua orang jemaah Indonesia itu, tapi bayarnya saya enggak tahu,” ujarnya.


Menurut dia, perjalanan haji dan umrah dengan kapal laut juga pernah menjadi tradisi. Ia menyebut kapal Belle Abeto dan Gunung Jati sebagai armada yang dulu mengangkut jemaah Indonesia ke Tanah Suci.


“Tapi itu tiga-empat bulan. Nah sekarang ini mungkin kapalnya lebih cepat ya dan ada juga jalur lautnya,” kata Nasaruddin.


Carmelita mengatakan pemberangkatan jemaah haji dan umrah melalui jalur laut menghadirkan tantangan besar yang memerlukan kajian komprehensif. Tidak hanya dari sisi waktu dan biaya, tetapi juga menyangkut perubahan dalam pengelolaan operasional. “Contohnya saat menangani jamaah yang sakit ataupun meninggal dalam perjalanan,” kata dia.


Semua tantangan tersebut harus ada mitigasi dan diperhitungkan secara menyeluruh, termasuk pengelolaan logistik, penyediaan fasilitas, serta struktur biaya yang dibutuhkan.


Carmelita juga menyoroti soal ketersediaan kapal penumpang yang memadai. “Apakah dengan menyewa atau membeli (kapal). Mengingat kita tidak punya kapal penumpang yang 'ready' untuk menjalankan ini,” katanya.


Baca Juga :

Meski belum mengetahui secara pasti rencana detail pemerintah, Carmelita mengatakan pihaknya telah mendengar adanya sejumlah penawaran dari berbagai pihak. Untuk itu, ia berharap pengusaha pelayaran nasional dapat dilibatkan dalam kajian dan perencanaan ke depan.


“Kita belum tahu apa dan bagaimana rencana pemerintah. Walau sudah mendengar banyak pihak yang memberikan penawaran. Kita mengharapkan para pelaku usaha nasional bisa dilibatkan dalam kajian ini,” kata Carmelita.


Gagasan ibadah haji melalui jalur laut mencuat setelah lawatan Presiden Prabowo beserta jajarannya ke Arab Saudi pada 2 Juli lalu. Kementerian Agama kini mulai menjajaki komunikasi dengan otoritas Arab Saudi untuk mewujudkan rencana tersebut.


Kementerian Perhubungan juga mengatakan rencana tersebut masih perlu dilakukan kajian secara komprehensif, sehingga bisa berjalan aman dan lancar. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub Ernita Titis Dewi mengatakan kajian menyeluruh dibutuhkan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana, termasuk kondisi pelabuhan, fasilitas pendukung seperti bea cukai, imigrasi, serta sistem layanan lainnya yang diperlukan. 


Selain infrastruktur, Kemenhub menyoroti keterbatasan armada kapal yang tersedia serta mempertimbangkan apakah biaya transportasi laut bisa lebih terjangkau dibandingkan jalur udara.@_Network

 
 
 

Anggota Unit Reskrim Polsek Pakal Polrestabes Surabaya memburu pembuang bayi perempuan di warung rujak Jalan Raya Babat Jerawat, Pakal, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (12/7/2025) siang.
Anggota Unit Reskrim Polsek Pakal Polrestabes Surabaya memburu pembuang bayi perempuan di warung rujak Jalan Raya Babat Jerawat, Pakal, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (12/7/2025) siang.

KOORDINATBERITA.COM | Surabaya - Petugas medis saat memeriksa bayi perempuan di warung rujak kawasan Jalan Raya Babat Jerawat, Babat Jerawat, Pakal, Surabaya, pada Sabtu (12/7/2025) pagi.


Anggota Unit Reskrim Polsek Pakal Polrestabes Surabaya memburu pelaku pembuang bayi perempuan berusia satu minggu itu. 


Anggota Unit Reskrim Polsek Pakal Polrestabes Surabaya memburu pembuang bayi perempuan di warung rujak Jalan Raya Babat Jerawat, Pakal, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (12/7/2025) siang.


Kapolsek Pakal Polrestabes Surabaya Kompol I Made Jatinegara mengatakan, bayi tersebut diperkirakan berusia satu minggu.


Temuan tersebut didasarkan pada pemeriksaan tim medis yang merawat bayi tersebut di RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) Surabaya.


Kasus penemuan bayi tersebut masih diselidiki oleh personilnya. Sejumlah saksi juga masih dimintai keterangan di Mapolsek Pakal Polrestabes Surabaya. 


"Sesuai keterangan medis baru 1 minggu (usia bayi). Saat ini kasus penemuan bayi itu, masih penyelidikan. Mohon waktu," ujarnya.

Baca Juga :

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Pakal Polrestabes Surabaya Iptu Eddy Kristanto mengatakan, sudah ada dua orang saksi yang diperiksa untuk menyelidiki kasus temuan bayi perempuan tersebut. Para saksi itu, merupakan penemu bayi pertama kali. 


"2 orang saksi. Kami masih selidiki," ujarnya saat dihubungi.


Bayi perempuan tersebut berusia sekitar tujuh hari, berat badannya sekitar 195 gram, dengan panjang tubuh sekitar 40 cm. 


Sementara Yati (60), sang pemilik warung rujak tempat bayi dibuang hendak libur berjualan saat itu.


Biasanya Yati sudah membuka warung rujaknya itu, antara pukul delapan atau sembilan pagi.


Karena, sejak pagi hari dirinya mengantarkan salah satu anaknya berobat di rumah sakit terdekat, ia berencana libur berjualan hari ini. 


Namun, sang suami meminta tetap berjualan, meskipun dagangannya cuma laku 1-2 pembeli. 


Sembari menunggu suaminya membawa perkakas barang dagangan, Yati membersihkan area warungnya. 


Namun, ia justru  menemukan tas berwarna putih di salah satu meja kecil di balik sisi belakang meja utama warungnya. 


Ia mengaku belum sempat menyentuh tas itu karena terlihat bergerak.


Yati pun memilih meminta bantuan orang lain atau para tetangganya yang kebetulan melintas untuk memeriksa tas tersebut. 


"Tas wadah berkat makanan hajatan. Lalu pakai baju bayi warna oranye. Lalu, kain 'gedong' warna putih. Tidak ada surat wasiat. Kakinya lho kok kedur-kedur (selama dalam tas)," ujarnya saat ditemui  di rumahnya, Sabtu (12/7/2025) malam. 


Setelah mendengar kesaksian warga, jika bungkusan itu berisi seorang bayi, Yati benar-benar merasa kaget. 


Terlepas dari itu, ada hal yang paling disyukuri Yati. Seandainya ia tidak berjualan dan mengabaikan anjuran sang suami, ia tak bisa membayangkan bakal seperti apa nasib jabang bayi tersebut yang tak kunjung ditemukan. 


"Seumpama saya libur enggak jualan. Ya ampun bagaimana kondisi bayi kalau engga ketahuan sampai besok. Iya sampun digariskan. Ealah Nak, semoga dikasih panjang umur, nak yo," pungkasnya.@_Oirul

 
 
 

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar terkait wacana memberangkatkan calon jemaah haji menggunakan kapal sebagai opsi alternatif selain pesawat terbang.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar terkait wacana memberangkatkan calon jemaah haji menggunakan kapal sebagai opsi alternatif selain pesawat terbang.

KOORDINATBERITA.COM | Jakarta -- Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) menegaskan menolak wacana atau usulan pemberangkatan calon jemaah haji menggunakan kapal laut sebagai salah satu alternatif transportasi untuk musim haji 1447 Hijriah.


"Betul, BP Haji tidak setuju keberangkatan haji menggunakan kapal laut," kata Tenaga Ahli BP Haji Ichsan Marsha di Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (12/7) seperti dikutip dari Antara.


Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar terkait wacana memberangkatkan calon jemaah haji menggunakan kapal sebagai opsi alternatif selain pesawat terbang.


Menurut Ichsan, gagasan atau ide memberangkatkan calon jemaah haji menggunakan kapal laut bertolak belakang dengan semangat yang sedang dibangun BP Haji untuk memberikan layanan terbaik kepada masyarakat.


Dengan menggunakan kapal laut, kata dia, maka otomatis hal itu berdampak kepada lamanya waktu perjalanan calon jemaah haji dari Indonesia hingga tiba di Arab Saudi.


Selain itu pihaknya menilai usulan tersebut dinilai juga tidak ekonomis. Menurutnya, jika kebijakan tersebut diimplementasikan maka turut berdampak kepada upaya Pemerintah Indonesia yang bertekad mengurangi masa tinggal jemaah selama di Tanah Suci dari 40 hari menjadi 30 hari.


Sementara di sisi lain Presiden RI Prabowo Subianto telah meminta BP Haji agar mencarikan solusi supaya Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) musim berikutnya diturunkan dari musim haji 2025.


"Artinya, usulan menggunakan kapal laut ini akan menggeser keinginan kita di awal tadi, seperti upaya menekan biaya haji dan mengurangi masa tinggal di Tanah Suci," jelas dia.


Terpisah Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan pemerintah Indonesia sedang menjajaki kemungkinan dibukanya jalur laut sebagai alternatif pemberangkatan ibadah umrah dan haji yang saat ini tengah didiskusikan dengan otoritas Arab Saudi.


"Digagas ke depan kami kira sangat prospektif memperkenalkan umrah dan haji melalui kapal laut. Kami juga kemarin berbicara dengan sejumlah pejabat-pejabat di Saudi Arabia," ujar Menag.@_Network

 
 
 
Blog: Blog
bottom of page