top of page

Sindikat, Terungkap Jejak Dugaan Eksploitasi Anak yang Diperkejakan ke Gion Spa Plus and Pub Surabaya,

Gemerlap lampu dan suasana mewah yang menyelimuti sebuah tempat hiburan malam di kawasan Jalan HR Muhammad, Surabaya, menyimpan kisah yang jauh dari kesan relaksasi. ( Ilustarsi)
Gemerlap lampu dan suasana mewah yang menyelimuti sebuah tempat hiburan malam di kawasan Jalan HR Muhammad, Surabaya, menyimpan kisah yang jauh dari kesan relaksasi. ( Ilustarsi)

KOORDINATBERITA.COM | Surabaya - Diduga Sindikat yamg mengexploitasi anak untuk diperkerjakan sebagai tempat refleksi SPA yang ada di wilayah Surabaya. Dan Sindikat tersebut berhasil di amankan oleh penegak hukum.


Gemerlap lampu dan suasana mewah yang menyelimuti sebuah tempat hiburan malam di kawasan Jalan HR Muhammad, Surabaya, menyimpan kisah yang jauh dari kesan relaksasi.


Di balik pintu-pintu ruang spa yang tertutup. rapat, aparat kepolisian mengungkap dugaan praktik perdagangan anak lintas provinsi yang kini menjadi sorotan publik.


Kasus tersebut bermula dari pengungkapan jaringan prostitusi anak yang dilakukan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Lampung. Penyelidikan kemudian mengarah ke Gion Spa and Pub Surabaya, tempat dua remaja perempuan asal Lampung diduga dieksploitasi sebagai terapis.


Di tengah proses penyidikan yang masih berlangsung, polisi kini memburu Febrian Ramadan alias Febra, seorang DJ residence yang diduga berperan sebagai penyalur terapis ke tempat usaha tersebut.


Informasi yang dihimpun menyebutkan sejumlah terapis yang sebelumnya tergabung dalam agensi milik Febra masih bekerja di lokasi dengan menggunakan kode berbeda. Sementara itu, aktivitas operasional spa tetap berjalan seperti biasa.


Saat memasuki area usaha tersebut, pengunjung disambut berbagai pilihan paket layanan spa. Selain paket pijat reguler, tersedia pula layanan khusus yang menawarkan pengalaman mandi bersama terapis di dalam ruang spa.


"Kalo mau dua terapis bisa kak dengan harga Rp 1,3 juta dengan durasi dua jam," ujar salah satu pekerja saat menawarkan paket layanan kepada pelanggan.


Terungkapnya dugaan perdagangan anak itu memantik reaksi keras dari kalangan legislatif Kota Surabaya. Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, menilai pemerintah kota harus segera mengambil langkah tegas terhadap tempat usaha yang terseret dalam kasus tersebut.


"Saya berharap dengan kejadian penindakan hukum terhadap perdagangan manusia apalagi anak di bawah umur oleh Polda Lampung di salah satu spa di Surabaya menjadi pintu masuk bagi Pemkot untuk langsung menutup tempat usaha tersebut," kata Fathoni.


Menurutnya, dugaan eksploitasi anak bukan hanya persoalan pelanggaran hukum, tetapi juga menjadi ancaman terhadap reputasi Surabaya yang selama ini dikenal sebagai kota yang ramah anak.


"Menjual anak di bawah umur tidak hanya kejahatan, tapi juga mencoreng Surabaya sebagai kota layak anak," ujarnya.


Politikus Partai Golkar itu juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap usaha rekreasi dan hiburan umum (RHU). Ia meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tidak hanya mengandalkan laporan administratif dari pelaku usaha.


"Dengan kejadian seperti ini, saya berharap Disbudporapar melakukan pengawasan empiris secara berkala terhadap usaha-usaha sejenis di Surabaya, dengan menerjunkan tim yang melakukan penyamaran, agar tidak sekadar mendapatkan laporan di atas meja,” tegasnya.


Nada serupa disampaikan Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Moch Mahmud. la menilai kontribusi sektor RHU terhadap pendapatan daerah tidak sebanding dengan persoalan sosial yang ditimbulkan apabila terjadi pelanggaran hukum.


"Penerimaannya kecil. Lebih banyak masalahnya. Satpol PP dan Disbudpar harus turun lihat izinnya. Kalo memang benar ada prostitusi anak, koordinasi dengan Kapolda dan harus ditutup usaha itu," katanya.


Kasus ini sendiri berawal dari perekrutan dua anak perempuan berinisial R (15) dan BA (14), warga Teluk Betung Selatan, Lampung.



Keduanya dijanjikan pekerjaan dengan imbalan gaji Rp2 juta per pekan.


Pada 11 April 2026, kedua korban diberangkatkan dari Bandar Lampung menuju Surabaya bersama tersangka SA (17). Keesokan harinya, mereka tiba di Kota Pahlawan dan dijemput oleh Febra sebelum dibawa ke sebuah apartemen di kawasan Puncak Permai.


Hasil penyelidikan polisi menunjukkan kedua korban kemudian ditempatkan di mess karyawan dan diduga dipekerjakan sebagai terapis di Gion Spa and Pub.


Kapolda Lampung, Helfi Assegaf, membenarkan adanya dua korban anak dalam perkara tersebut.


"Ada dua korban yakni berinisial R dan BA," kata Helfi kepada wartawan.


la menjelaskan jaringan tersebut diduga juga memalsukan dokumen kependudukan agar para korban dapat bekerja tanpa menimbulkan kecurigaan.


"Sebelum berangkat kedua korban difoto untuk membuat dokumen kependudukan palsu. Setelah sampai di Surabaya kedua korban dipekerjakan di Gion Spa and Pub Surabaya," ungkapnya.


Perkara ini akhirnya terbongkar setelah salah satu korban berhasil menghubungi keluarganya di Lampung pada 17 April 2026. Keluarga kemudian meminta kedua anak tersebut dipulangkan. Namun permintaan itu justru dibalas dengan permintaan uang sebesar Rp10 juta sebagai syarat pemulangan.


Laporan keluarga kepada Polda Lampung menjadi titik awal pengungkapan kasus yang kini berkembang menjadi penyelidikan dugaan tindak pidana perdagangan orang lintas daerah.


"Untuk tersangka SA sudah ditetapkan sebagai tersangka dan saat ini sudah ditahan," jelas Helfi.


Hingga berita ini ditulis, pihak manajemen Gion Spa and Pub belum memberikan tanggapan resmi. Upaya konfirmasi kepada manajer yang dikenal dengan panggilan Wang juga belum memperoleh respons.


Sementara penyidikan terus berjalan, publik kini menanti langkah tegas aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Di tengah predikat Surabaya sebagai Kota Layak Anak, kasus ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak tidak cukup hanya diwujudkan dalam penghargaan, tetapi juga melalui pengawasan dan penegakan hukum yang nyata.@_Network

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
Single Post: Blog_Single_Post_Widget
Recent Posts
Kami Arsip
bottom of page