Peringati HKB 2026, Kolaborasi BPBD Jatim Gelar Simulasi Evakuasi Tsunami di Lumajang & Trenggalek
- khoirulfatma13

- 9 menit yang lalu
- 4 menit membaca

KOORDINATBERITA.COM | Surabaya - Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang diperingati secara nasional setiap tanggal 26 April, ditandai peringatannya oleh BPBD Jatim dengan berbagai kegiatan kesiapsiagaan. Salah satunya, kegiatan simulasi evakuasi mandiri tsunami di Lumajang dan Kabupaten Trenggalek, Minggu (26/4/2026).
Di Lumajang, gladi evakuasi mandiri tsunami dilangsungkan secara kolaboratif dengan SIAP SIAGA, BMKG Malang, Forum PRB Jatim dan BPBD setempat dengan difokuskan di kawasan pesisir Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Kecamatan Tempursari.
Sementara di Trenggalek, gladi evakuasi mandiri tsunami dilangsungkan bareng BPBD setempat di Pantai Ngadipuro, Desa Craken, Kec. Munjungan.
Sehari sebelum dilangsungkan simulasi evakuasi tsunami, juga dilakukan sosialisasi pelatihan simulasi kepada masyarakat setempat, dengan melibatkan berbagai elemen, mulai dari kelompok pemuda, lansia, anak-anak hingga penyandang disabilitas.
Khusus di Lumajang, sosialisasi kebencanaan dilangsungkan di Balai Desa Tegalrejo dengan dihadiri Sekretaris BPBD Jatim Andhika Nurrahmad Sudigda, Manager Program SIAP SIAGA Jatim Mambaus Su'ud, Kepala Stasiun BMKG Malang Ricko Kardoso, Sekjen FPRB Jatim Catur Sudarmanto, Kabid PK BPBD Lumajang Sultan Syafaat dan Kades Tegalrejo, Nyono.
Hadir juga saat simulasi evakuasi mandiri, Kepala Deputi Konjen Australia di Surabaya, Christine Bui dan Ketua Tim Pencegahan BPBD Jatim, Dadang Iqwandy.
Mewakili Kalaksa BPBD Jatim, Sekretaris BPBD Andhika Nurrahmad Sudigda menjelaskan, kegiatan simulasi ini merupakan upaya kolaborasi BPBD Jatim untuk peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bahaya tsunami di Jawa Timur.
Kegiatan simulasi ini diharapkan bisa menjadi tradisi rutin masyarakat Tegalrejo, agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi dan tsunami.
"Karena gempa maupun tsunami ini bisa terjadi kapan saja. Karenanya, kesiapsiagaan masyarakat menjadi yang utama," terangnya.
Kepala Stasiun BMKG Malang Ricko Kardoso juga menegaskan, simulasi evakuasi mandiri bagi masyarakat Tegalrejo ini penting, sebagai tanda bahwa mereka telah siap bila tsunami benar-benar terjadi.
"Berdasar perhitungan kami, wilayah Tegalrejo ini termasuk yang akan terdampak langsung, karena posisinya yang berhadapan langsung dengan titik potensi megathrust," tegasnya.
Sementara, Yohadi Susanto Muso, Kepala Dusun Tegalbanteng Desa Tegalrejo yang turut dalam kegiatan ini mengaku sangat senang dan berterimakasih dengan pelatihan simulasi yang berlangsung dua hari ini.
Karena dengan pelatihan ini, masyarakat di wilayah tempat tinggalnya bisa mengerti tentang ancaman tsunami dan cara melakukan evakuasi mandiri hingga ke titik aman di area safe zone di kaki Gunung Kursi.
"Kami menyampaikan terimakasih kepada BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Lumajang, BMKG dan Tim Siap Siaga yang telah memberikan pelatihan ini. Kami yakin pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami dan segenap warga Tegalrejo," ujarnya.
Sebelumnya, Tim BPBD Jatim bersama SIAP SIAGA dan warga setempat juga telah melakukan pengecatan jalan sebagai batas titik aman tsunami yang berada di kaki Gunung Kursi atau yang biasa disebut dengan Blue Zone.
Zona biru ini akan menjadi titik akhir bagi masyarakat Tegalrejo saat melakukan simulasi evakuasi mandiri tsunami mulai dari perkampungan di pesisir Pantai Bulu.
Kepala Deputi Konjen Australia di Surabaya, Christine Bui, yang turut menyaksikan proses simulasi mulai awal hingga akhir, mengaku surprise dengan semangat yang ditunjukkan warga Tegalrejo saat melakukan simulasi evakuasi mandiri tsunami.
Baginya, semangat itu merupakan bentuk keseriusan warga dalam merespon potensi ancaman bencana gempa dan tsunami di Pantai Bulu, Lumajang.
Hal serupa juga disampaikan Dadang Iqwandy, Ketua Tim Pencegahan BPBD Jatim saat evaluasi pelaksanaan kegiatan simulasi di balai desa setempat.
Ia pun menyampaikan terima kasih dan mengapresiasi semangat masyarakat Tegalrejo dalam melaksanakan simulasi evakuasi mandiri tsunami kali ini.
Berdasar catatan Tim Pelaksana Simulasi, waktu yang dicapai warga dari titik awal hingga ke zona aman mencapai sekitar 13 hingga 18 menit. Durasi waktu itu, menurutnya, masih dalam kategori waktu aman sebelum gelombang tsunami datang.
"Tapi, yang terpenting dari pelaksanaan simulasi hari ini adalah, masyarakat Tegalrejo telah mengetahui kemana mereka harus berlari, menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi dan tsunami. Ini yang perlu disampaikan secara terus menerus kepada anak-anak dan cucu mereka," terangnya.
Sementara itu, selain kegiatan simulasi evakuasi mandiri tsunami di Lumajang dan Trenggalek, dalam memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) tahun ini, BPBD Jatim juga melaksanakan serangkaian kegiatan kesiapsiagaan lainnya.
Di antaranya, pelatihan kesiapsiagaan yang digelar bersama Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jatim di area Taman Edukasi Bencana (Tanpina),BPBD Jatim, kegiatan edukasi kebencanaan bersama Mosipena di Taman Kebon Ratu Jombang dan gelar simulasi serentak di sejumlah sekolah yang berkolaborasi dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Jatim.
Khusus untuk kegiatan bareng SRPB Jatim di area Taman Edukasi Bencana, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto bersama Anggota Komisi E DPRD Jatim Cahyo Harjo Prakoso juga hadir, guna memperingati kegiatan HKB tahun ini.
Dadang menambahkan bahwa selama dua hari, mulai tanggal 25 April sampai dengan tanggal 26 April 2026, pihaknya bersama-sama dengan Siap Siaga Jawa Timur, BMKG, kemudian BBBD Lumajang melaksanakan kegiatan sosialisasi terkait gempa bumi dan tsunami di selatan Jawa Timur.
Kemudian, dilanjut dengan geladi evakuasi. "Ending atau tujuan akhir dari kegiatan ini adalah mengenalkan kepada masyarakat titik safe zone batas aman zona tsunami, di mana untuk desa Tegal Rejo ini adalah Gunung Kursi. Pada hari ini kami mencoba melaksanakan kegiatan geladi evakuasi mandiri tersebut, di mana rentang waktu yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mencapai safe zone tersebut dalam rentang waktu 13 menit sampai dengan 18 menit. Itu pun dibantu dengan kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua. Nah ini menjadi perhatian kita bersama berdasarkan informasi dari kajian yang dilakukan oleh BMKG, gelombang pertama tsunami sampai di garis pantai sejak gempa itu dalam waktu 23 menit," jelasnya.
Sehingga, lanjut dia, dalam rentang waktu tersebut masyarakat harus segera menuju zona aman tsunami.
"Nah, yang menjadi garis bawah adalah tadi masyarakat membutuhkan waktu 13 sampai dengan 18 menit sampai ke titik safe zone menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Nah, bisa dibayangkan kalau ini kemudian seluruh masyarakat desa Tegal Rejo secara bersama-sama menggunakan kendaraan, maka pasti macet dan waktu yang dibutuhkan untuk sampai titik aman pasti lebih dari 18 menit. Ini yang kami sampaikan ayo secara bersama-sama masyarakat desa untuk kemudian membentuk tim siaga bencana desa, kemudian untuk secara bersama-sama mengatur mobilisasi masyarakatnya pada saat situasi darurat. Karena apa? Karena jarak BPBD Kabupaten Lumajang untuk sampai ke Desa Tegal Rejo ini cukup jauh, yaitu memakan waktu paling cepat 2,5 jam. Sementara BPBD Provinsi untuk sampai ke Desa Tegal Rejo membutuhkan waktu lebih kurang 4 sampai dengan 5 jam," tukasnya.
"Oleh karenanya di fase-fase awal kejadian bencana tersebut justru masyarakatlah yang mengurus dirinya sendiri terlebih dahulu. Nah, ini yang kami sampaikan selama 2 hari ini, pembelajaran kepada masyarakat untuk kemudian secara bersama-sama, secara gotong-royong untuk menyusun rencana aksi dalam rangka menghadapi potensi bencana gempa dan tsunami," pungkasnya.@_Adm





































































































































Komentar