Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square

Aliansi Anti Kekerasan Jurnalis Desak Usut Keterlibatan Achmad Yani & Polisi Tak Masuk Angin


Status perkara penganiayaan terhadap Nurhadi berkembang dari tahap penyelidikan menjadi penyidikan.
Status perkara penganiayaan terhadap Nurhadi berkembang dari tahap penyelidikan menjadi penyidikan.

Koordinatberita.com| SURABAYA- Koordinator advokasi Aliansi Anti Kekerasan terhadap Jurnalis, Fatkhul Khoir alias Muhammad Djuir, mendesak penyidik Kepolisian Daerah Jawa Timur mengusut tuntas kasus penganiayaan terhadap jurnalis Tempo, Nurhadi.


Djuir berharap penyidik menjerat orang-orang yang terlibat dalam pengeroyokan dan penyekapan terhadap Nurhadi di Surabaya pada 27 Maret lalu itu. "Semoga penetapan tersangka tak berhenti pada pelaku penganiayaan di lapangan," kata Djuir, melangsir dari Tempo saat di hubungi kemarin.


Penyelidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur melakukan gelar perkara, kemarin. Hasilnya, status perkara penganiayaan terhadap Nurhadi berkembang dari tahap penyelidikan menjadi penyidikan. Penyelidik belum menetapkan satu orang pun sebagai tersangka. Alasannya, mereka perlu melakukan sekali lagi gelar perkara untuk menetapkan tersangka.


Nurhadi disekap dan dianiaya saat ditugasi redaksi majalah Tempo meminta konfirmasi kepada bekas Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Angin Prayitno Aji, yang terlibat kasus suap pajak. Angin sedang menggelar resepsi pernikahan anaknya dengan anak bekas Kepala Biro Perencanaan Polda Jawa Timur, Komisaris Besar Achmad Yani, di Graha Samudera Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Laut Morokrembangan, Surabaya

Nurhadi lantas mendatangi lokasi resepsi pernikahan tersebut. Namun, saat meliput, Nurhadi ditangkap oleh orang-orang yang

mengamankan acara pernikahan hingga berujung pengeroyokan dan penyekapan.


Djuir berharap polisi menjerat aktor intelektual dalam perkara kekerasan terhadap Nurhadi. Djuir menduga Kombes Achmad Yani terseret dalam peristiwa penganiayaan terhadap kliennya itu. Dugaan tersebut bermula ketika penyelidik meminta keterangan tambahan dari Nurhadi. Nah, saat itulah nama Achmad Yani muncul. Menurut Djuir, polisi juga mendapat rekaman percakapan telepon antara Firman dan Purwanto, dua polisi yang diduga terlibat

dalam penyekapan dan penyiksaan ini, dengan redaksi Tempo yang direkam oleh pelaku. Dalam rekaman itu. Firman dan Purwanto menyebut nama "Bapak" yang diduga merujuk pada Achmad Yani selaku tuan rumah hajatan resepsi.


Rekaman percakapan dengan Tempo itu juga dikirim oleh pelaku kepada Achmad Yani. Penyelidik sudah bertanya kepada Nurhadi dan saksi tentang siapa orang yang disebut"Bapak" itu. Fakta baru pun disampaikan Nurhadi.


Ketika penyekapan, Achmad Yani sempat melihat langsung kondisi Nurhadi. Bahkan, saksi, yang merupakan rekan Nurhadi, melihat dan yakin bahwa Achmad Yani, yang memakai baju serupa di pelaminan, datang ke lokasi penyekapan. "Dia tidak memakai masker. Jadi, Yani mengetahui saya dipukuli selama lima menit," kata Nurhadi.


Karena itu, Djuir berharap polisi tak masuk angin dalam mengusut keterlibatan Achmad Yani. Ia berharap penyidik berani menjerat

Achmad Yani jika memang punya bukti yang kuat. Djuir khawatir paling banter Achmad Yani hanya dikenai sanksi disiplin sebagai personel kepolisian. "Karena itu, kita harus kawal agar polisi bekerja maksimal," kata dia.


Kepala Subdit Harta Benda dan Bangunan Tanah Direktorat Reserse Kriminal Umum

Polda Jawa Timur, Ajun Komisaris Besar Nur Hidayat, tak bersedia berbicara banyak tentang dugaan keterlibatan Achmad Yani. "Maaf, untuk teknis kami tidak bisa beri keterangan," kata dia ketika dihubungi, kemarin.


Tempo berupaya menghubungi Achmad Yani dengan pelbagai cara. Sumber di Kepolisian Daerah Jawa Timur menyebutkan Yani telah pindah tugas ke Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIY, Komisaris Besar Yuliyanto, menyatakan Achmad Yani sudah tidak lagi bertugas di wilayahnya. "Sudah lama pindah. Saya agak lupa, ke Manado atau Gorontalo, pokoknya daerah timur sana," ucapnya.


Sumber: Karan Tempo