top of page

Peluncuran Pandemic Fund: Tonggak Penting Atasi Kesenjangan Pembiayaan Global untuk PPR Pandemi

“Dana Pandemi akan memainkan peran kunci dalam menjembatani kerja sama di antara anggota G20 baik negara maju maupun berkembang, anggota non-G20, dan pemangku kepentingan, termasuk filantropi, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil,” kata Menteri Sri Mulyani dalam pidatonya.
“Dana Pandemi akan memainkan peran kunci dalam menjembatani kerja sama di antara anggota G20 baik negara maju maupun berkembang, anggota non-G20, dan pemangku kepentingan, termasuk filantropi, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil,” kata Menteri Sri Mulyani dalam pidatonya.

KOORDINATBERITA.COM| Bali – “Pandemic Fund” yang pada awalnya dikenal dengan “the Financial Intermediary Fund for Pandemic Prevention, Preparedness, and Response (FIF-PPR)” secara resmi diluncurkan oleh Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), dalam rangkaian KTT G20 Presidensi Indonesia di Bali.


Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan Indonesia hadir menyampaikan remarks

dalam acara peluncuran tersebut. Acara yang dilaksanakan secara hybrid tersebut juga dihadiri oleh Menteri Keuangan Australia, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Menteri Ekonomi dan Keuangan Italia, Presiden Bank Dunia, Direktur Jendral Organisasi Kesehatan Dunia, Menteri Kesehatan India dan beberapa petinggi negara lainnya. Acara tersebut dibuka dengan penyampaian pidato kunci dan seremoni peluncuran Pandemic Fund atau Dana Pandemi  oleh Presiden Jokowi.


Pandemi tidak boleh lagi memakan banyak korban jiwa dan meruntuhkan sendi-sendi perekonomian global. Untuk itu, Presidensi G20 Indonesia terus mendorong arsitektur kesehatan global di mana dunia harus memiliki kapasitas pembiayaan untuk mencegah dan menghadapi pandemi dan membangun ekosistem kesehatan yang tersinergikan lintas negara.


Perihal pembiayaan yang dibutuhkan sebesar USD 31,1 milliar untuk PPR pandemi berdasarkan hasil studi Bank Dunia dan Organisasi Kesehatan Dunia, Presidensi G20 Indonesia melalui Gugus Tugas Gabungan Keuangan-Kesehatan G20, telah memberikan hasil yang konkret dengan dibentuknya

Pandemic Fund pada 8 September 2022. Hingga kini, lebih dari USD 1,4 miliar komitmen finansial telah disampaikan oleh 24 donor baik dari negara G20, negara non-G20, dan lembaga filantrofi. Komitmen ini diharapkan akan terus bertambah seiring peningkatan kepercayaan dan minat global untuk berkontribusi pada dana tersebut.


Pada acara Launching of the Pandemic Fund tersebut, Presiden Jokowi berterima kasih atas upaya kolektif, berkelanjutan dan komitmen yang sudah dilakukan, khususnya kepada para donor baik dari negara-negara anggota G20 maupun non-G20, serta lembaga filantropi yang telah berkontribusi pada Dana Pandemi. Selain kontribusi dana, Presiden Jokowi juga mengajak semua pihak untuk mendukung beberapa inisiatif yang ada terkait kesehatan global seperti pembentukan platform koordinasi penanggulangan darurat kesehatan.


“Pembentukan Dana Pandemi dan komitmen awal kontribusi ini merupakan sebuah langkah awal yang baik. Namun demikian, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan dana ini mencapai tujuan yang dicita-citakan,” tegas Presiden Jokowi.


Menteri Keuangan juga menyampaikan bahwa Dana Pandemi ini akan ditargetkan sebagai katalisasi untuk sumber dana jangka panjang bagi penanggulangan pandemi, insentif bagi negara untuk meningkatkan investasinya terhadap PPR, serta penguatan koordinasi antar organisasi internasional.


“Dana Pandemi akan memainkan peran kunci dalam menjembatani kerja sama di antara anggota G20 baik negara maju maupun berkembang, anggota non-G20, dan pemangku kepentingan, termasuk filantropi, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil,” kata Menteri Sri Mulyani dalam pidatonya.


Presiden Bank Dunia, Malpass mengucapkan selamat kepada Indonesia karena telah menjadi tuan rumah G20 2022 dengan sangat baik dan menyampaikan apresiasinya atas komitmen dari donor untuk memperkuat Dana Pandemi. Malpass menyerukan, “Dana pandemi adalah bukti adanya koordinasi global.” Malpass juga mengharapkan negara-negara untuk berkontribusi pada Dana tersebut.


Dana Pandemi ini akan dikelola bersama oleh para kontributor dan perwakilan penerima, dan mitra lainnya dengan menggunakan mekanisme pengelolaan Bank Dunia atau disebut sebagai Wali Amanat (Trustee). Terkait pengaturan strategis termasuk peruntukan pendanaan dan tata kelola Dana Pandemi, dilakukan oleh Dewan Pengelola (Governing Board) yang dipimpin oleh co-chairs, Chatib Basri dari Indonesia dan Daniel Ngajime, Menteri Kesehatan Rwanda. Sementara untuk panduan teknis pelaksanaan termasuk kesekretariatan akan melibatkan WHO.


Pada sesi panel tingkat tinggi mengenai penanggulangan PPR, Chatib Basri selaku co-chair, menekankan bahwa pembentukan Dana Pandemi merupakan suatu capaian penting terhadap upaya komunitas internasional untuk menyelaraskan dan menutup celah antara capaian riil dengan target pembiayaan yang hendak dicapai. Hal tersebut merupakan langkah pertama yang penting dalam memastikan dunia lebih siap untuk mempersiapkan, mencegah, dan menanggapi pandemi berikutnya. “Kami berupaya memastikan bahwa pendanaan ini akan menambah nilai pembiayaan PPR pandemi,” ujar Chatib Basri.


Pembiayaan dari Dana Pandemi dapat digunakan untuk memberi insentif kepada negara-negara agar berinvestasi lebih banyak dalam PPR pandemi, termasuk melalui Bank Pembangunan Multilateral (MDB) untuk lebih meningkatkan konsesional dan sumber daya domestik. “Menghindari pandemi di masa depan membutuhkan investasi yang jauh lebih besar dalam PPR pandemi. Investasi ini akan membantu mencegah biaya yang jauh lebih besar yang akan dikeluarkan dunia jika kita tidak siap menghadapi krisis kesehatan global berikutnya,” tambah Chatib Basri.


Menteri Kesehatan Indonesia, Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa Dana Pandemi merupakan tonggak penting dalam perbaikan pencegahan, kesiapsiagaan, dan tanggapan (PPR) pandemi global. Ini harus mengatalisasi pembiayaan PPR jangka panjang, mendorong negara-negara untuk berinvestasi lebih lanjut dalam PPR pandemi, dan meningkatkan koordinasi di antara anggota G20 yang maju dan berkembang, anggota non-G20, serta entitas non-negara lainnya. “Presidensi Indonesia akan segera berakhir. Kami telah menapaki jalan yang telah dilalui Presidensi Italia, dan kami pasti akan meninggalkan jejak untuk Presidensi berikutnya. Kami berharap India sebagai Presidensi berikutnya dapat membawa kami ke dunia yang lebih baik, dunia yang lebih sejahtera, dan dunia yang lebih aman untuk generasi yang akan datang,” pungkas Menteri Budi.


Peluncuran Dana Pandemi ini telah menunjukkan kepada dunia bahwa G20 mampu menghasilkan aksi nyata yang dapat berdampak global. Indonesia akan terus terlibat aktif dalam pembahasan Dana Pandemi, termasuk dengan semua pemangku kepentingan terkait, sebagai bagian dari upaya bersama untuk memperkuat arsitektur kesehatan global.@_Oirul


Rahayu Puspasari

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan

7 tampilan

Comments

Rated 0 out of 5 stars.
No ratings yet

Add a rating
Single Post: Blog_Single_Post_Widget
Recent Posts